Ankara – Pemimpin baru Suriah, Farouk Al-Sharaa, mengadakan pertemuan resmi dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, di Ankara pada Selasa (4/2). Pertemuan ini menjadi momen penting dalam upaya membangun kembali hubungan bilateral yang sempat tegang akibat konflik berkepanjangan di Suriah.
Diskusi antara kedua pemimpin berfokus pada stabilitas kawasan, kerja sama dalam isu pengungsi, dan langkah-langkah pemulihan ekonomi. Al-Sharaa menyatakan kesiapan Suriah untuk bekerja sama dengan Turki dalam mengatasi tantangan regional, termasuk penanganan kelompok militan dan rekonstruksi pasca-perang.
Erdogan menegaskan bahwa Turki tetap mendukung solusi damai di Suriah. Ia menekankan pentingnya dialog terbuka antara kedua negara demi mencapai kestabilan jangka panjang. Selain itu, kedua pemimpin juga membahas kemungkinan pembukaan kembali jalur perdagangan serta bantuan kemanusiaan bagi warga Suriah yang terdampak perang.
Dalam konferensi pers, Al-Sharaa mengungkapkan harapannya agar hubungan Suriah dan Turki bisa memasuki fase baru yang lebih harmonis. Ia juga berterima kasih atas dukungan Turki terhadap upaya rekonstruksi di Suriah.
Pertemuan ini dinilai sebagai langkah positif dalam memperbaiki hubungan kedua negara. Para analis percaya bahwa kerja sama lebih erat antara Suriah dan Turki akan berdampak besar terhadap dinamika politik di Timur Tengah.
Turki dan Suriah Bangun Hubungan Baru: Al-Sharaa dan Erdogan Sepakati Kerja Sama Regional
Pemimpin baru Suriah, Farouk Al-Sharaa, melakukan kunjungan resmi ke Turki untuk bertemu dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Kunjungan ini menjadi sinyal bahwa kedua negara ingin memperbaiki hubungan setelah bertahun-tahun konflik dan ketegangan diplomatik.
Dalam pertemuan di Ankara, kedua pemimpin membahas sejumlah isu penting, termasuk rekonstruksi Suriah, repatriasi pengungsi, serta upaya pemberantasan terorisme di wilayah perbatasan. Erdogan menekankan bahwa Turki siap menjadi mitra dalam pemulihan Suriah, terutama dalam aspek ekonomi dan keamanan.
Al-Sharaa menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan bahwa Suriah ingin mempererat hubungan dengan negara-negara tetangga. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama untuk memastikan stabilitas kawasan.
Selain itu, kedua pemimpin menyepakati pembentukan komite gabungan untuk membahas langkah konkret dalam bidang ekonomi dan keamanan. Komite ini akan bertugas mengkaji kebijakan yang dapat menguntungkan kedua negara serta mempercepat proses normalisasi hubungan diplomatik.
Para pengamat menilai pertemuan ini sebagai awal baru bagi hubungan Suriah dan Turki. Jika kerja sama ini berjalan lancar, stabilitas di kawasan Timur Tengah dapat semakin terjaga, serta peluang ekonomi baru akan terbuka bagi kedua negara.